Jakarta, CNBC IndonesiaKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso kembali menyampaikan pesan kepada perbankan dalam negeri perihal kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve.

Pada bulan lalu, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi di kisaran 2,25%-2,5%. Ini adalah kenaikan keempat di 2018 dan kesembilan sejak normalisasi kebijakan moneter dijalankan bank sentral mulai Desember 2015.

Tahun ini, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan minimal sebanyak dua kali. Kenaikan itu berpotensi diikuti oleh Bank Indonesia (BI) yang muaranya akan berujung pada kenaikan bunga deposito perbankan dalam negeri.

Namun yang terjadi, bank kerap kesulitan mentransmisikan kenaikan suku bunga deposito kepada suku bunga kredit. Sehingga profitabilitas menjadi kurang maksimal. Salah satu upaya yang bisa dilakukan, menurut Wimboh, adalah efisiensi.

“Kami rasa perbankan sudah kami sampaikan beberapa kali, tolong efisiensi dipercepat, ditingkatkan. Karena efisiensi bisa mengurangi tekanan untuk mengurangi suku bunga,” ujar Wimboh kepada wartawan usai Pertemuan Tahunan Industri Keuangan 2019 di Jakarta, Jumat (11/1/2019).


Ini Resep OJK Agar Bank tak Naikkan Bunga KreditFoto: Pertemuan tahunan industri keuangan OJK di The Ritz Carlton, Pacific Place, Sudirman Central Business Distric (SCBD). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Terkait kondisi sektor keuangan secara umum, dia mengatakan volatilitas sudah mereda pada pengujung 2018. Meskipun belum kembali ke titik norma, ada sedikit celah di mana inflow sudah mulai tampak. “Nilai tukar sudah sedikit menguat walaupun tidak kembali semula,” kata Wimboh.

“Ini adalah satu indikasi bahwa 2019 tentu meskipun ada potensi tekanan tapi gak seberat dulu,” lanjutnya.

(miq/miq)